Polda Jateng Pastikan Bripka Teguh Winarno Dipecat

Polda Jateng Pastikan Bripka Teguh Winarno Dipecat

Diposting April 4,2019 in Berita & Politik.

Desi Venjulie
321 Teman 66 Orang membaca ini

Sanksi tegas telah menanti anggota Polda Jateng bernama Bripka Teguh Winarno.

Dia divonis 1,5 tahun penjara atas praktik jual beli minyak jenis solar ilegal.

Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono, menegaskan, sanksi internal akan dijalankan setelah Bripka Teguh melewati hukuman 1,5 tahun pidana umum yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Semarang.

"Tentu ada sanksi internal," ujar Condro, Selasa (16/4/2019).

Bahkan Condro menyebut sanksi pemecatan dari keanggotaan Polri telah menanti Bripka Teguh.

"Sanksinya pecat itu," katanya.

Sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Semarang memvonis 1,5 tahun penjara terhadap anggota Polda Jateng, Bripka Teguh Winarno.

Teguh dinyatakan bersalah atas praktik jual beli minyak ilegal.

Selain penjara 1,5 tahun, majelis hakim juga menjatuhkan denda sebesar Rp 10 juta subsidaer satu bulan penjara.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Agus Triatmaja mengatakan pihaknya sudah menyiapkan prosedur sidang kode etik terhadap anggota Polda Jateng yang dinyatakan bersalah di depan pengadilan.

Namun prosedur internal Polri tersebut baru bisa dijalankan apabila perkara hukum yang dijalani Teguh sudah dinyatakan inkrah atau berkekuatan hukum tetap.

"Kalau sudah inkrah proses pidananya maka Polda akan melakukan proses sidang kode etik atau disiplin atas perbuatan anggota yang bersangkutan," kata Agus.

Untuk Berobat

Sebelumnya diberitakan, Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah Pujiati Purwaningsih menuturkan dalam nota pembelaan terdakwa, jual beli Migas karena tuntutan kehidupan untuk mencukupi kebutuhan anak dan istri.

Terdakwa menyadari bahwa jual beli Migas tanpa dokumen tersebut merupakan perbuatan bersalah.

"Apalagi anak saya harus operasi lidah," ujarnya menirukan pernyataan terdakwa.

Puji menuturkan sebelumnya terdakwa dituntut selama 1 tahun 6 bulan. Terdakwa dijerat dengan Undang-undang Migas.

"Terdakwa membeli Migas di kapal-kapal, dan dijual ke kapal jika ada order," tutur dia.

Menurut Puji, terdakwa melakukan transaksi jual beli Migas di perairan Batang, dan Kendal.

Barang bukti yang diamankan saat sebanyak sepuluh ton solar.

"Barang bukti belum sampai dijual. Baru mau akan didistribusikan," tutur dia.

Ia mengatakan tidak akan mengajukan tanggapan atas pembelaan terdakwa.

Pihaknya tetap bersih kukuh dengan tuntutan yang dikenakan terdakwa.

Juru Bicara Pengadilan Negeri Semarang, Eko Budi Supriyanto mengatakan usaha sampingan terdakwa tersebut untuk mencukupi kebutuhan. Terdakwa merasa gaji Polisi kurang mencukupi.

"Hal ini menjadi pertimbangan hakim," ujarnya yang merupakan satu di antara hakim anggota yang menangani kasus tersebut.

Menurut Eko, selama persidangan terdakwa tidak didampingi penasehat hukum. Terdakwa membaca sendiri pembelaannya

"Sejak awal (terdakwa) tidak ada penahanan," tutur dia.

Ia mengatakan agenda berikutnya adalah putusan. Sidang putusan akan dilaksanakan dua minggu kedepan.

"Sidang putusan nanti akan dilaksanakan pada tanggal 27 Februari 2019," tukasnya.

Desi Venjulie Artikel

Baca lebih lanjut.

Berita & Politik
April 4, 2019 | 33 Orang membaca ini

Gaya Hidup
April 4, 2019 | 68 Orang membaca ini

Berita & Politik
April 4, 2019 | 35 Orang membaca ini

Gaya Hidup
April 4, 2019 | 21 Orang membaca ini

Berita & Politik
April 4, 2019 | 20 Orang membaca ini